Showing posts with label farmasi. Show all posts
Showing posts with label farmasi. Show all posts

Nyeri Lutut, Bukan Obat Anti Nyeri Solusinya


Nyeri lutut merupakan masalah yang cukup sering dihadapi oleh orang-orang lanjut usia. Rasa nyeri tersebut tentu akan menyulitkan penderitanyauntuk beraktivitas. Namun solusi untuk mengatasinya bukan dari minum obat pereda nyeri.Dokter konsultan ortopedi Jeffrey Chew dari Singapura mengatakan, rasa nyeri pada lutut yang banyak dialami orang lanjut usia biasanya disebabkan oleh pengapuran sendi. Sehingga, minum obat-obatan pereda rasa nyeri tidak akan menyembuhkannya meskipun memberikan sedikit rasa nyaman.Jeffrey menjelaskan, pengobatan pengapuran sendi terdiri dari empat langkah, yaitu pengobatan, suntik, fisioterapi, dan operasi. Untuk obat-obatan, jika dilakukan selama lebih dari tiga bulan maka akan memberikan efek samping pada ginjal dan sistem cerna. Sementara untuk mengobatan suntik, kata dia, biasanya dokter akan memberikan suntikan steroid atau gel yang mengisi sendi yang telah menipis karena rusak. Rasa nyeri pada sendi sebenarnya disebabkan karena menipisnya tulang rawan pengisi sendi, sehingga gesekan antartulang di persendian pun akan menimbulkan rasa nyeri.Namun cara penyuntikan umumnya tidak akan bertahan lama. Dalam beberapa waktu, nyeri akan kembali muncul karena steroid atau gel tidak akan selamanya bertahan dalam sendi.
Cara selanjutnya, yaitu fisioterapi cukup baik untuk dilakukan meskipun tidak memperbaiki keadaan sendi secara signifikan. Maka menurut Jeffrey, cara operasilah yang paling efektif mengatasi dari pengapuran sendi.


Pereda Nyeri Justru Memicu Sakit Kepala



Jangan sembarangan mengonsumsi obat pereda nyeri untuk mengurangi gejala sakit kepala. Obat-obatan tersebut ternyata bisa membuat sakit
kepala bertambah parah."Ada banyak tipe sakit kepala. Kita harus memahami bahwa nyeri kepala yang berbeda butuh terapi yang berbeda pula, karena itu diagnosis yang tepat sangatlah penting," kata Profesor Gillian Leng, dari National Institute for Health and Care Excellence.
Manajemen penanganan nyeri yang efektif sangat bergantung pada diagnosis yang tepat. Namun kebanyakan orang menganggap setiap obat pereda nyeri bisa menghilangkan sakit kepala yang dideritanya.
"Banyak orang tidak sadar bahwa terlalu sering menggunakan beberapa jenis obat untuk mengatasi sakit kepala tipe tegang atau migren malah akan membuat sakit kepalanya bertambah parah," kata Leng.
Di Inggris, diperkirakan 10 juta orang menderita nyeri kepala berulang yang membuat mereka tidak bisa bekerja. Selain itu sebagian besar orang menderita sakit kepala akibat terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri. Penelitian menunjukkan, penggunaan obat pereda nyeri seperti parasetamol, aspirin, ibuprofen, atau codeine, yang terlalu sering akan memicu kekerapan munculnya sakit kepala.
Sebenarnya nyeri kepala itu timbul bukan karena overdosis obat, tetapi konsumsi obat dalam jangka panjang. Makin banyak obat yang diminum, makin resisten atau kebal tubuh terhadapnya. Akibatnya, mereka akan memilih obat yang lebih kuat lagi. Ketika obat tersebut dihentikan, bisa muncul reaksi semacam ketagihan yang disebut dengan nyeri kepala berulang (rebound headache), sehingga mereka akan minum obat lagi. Pada titik ini, berhentinya minum obat yang sebenarnya memicu sakit kepala.Mengapa muncul nyeri kepala berulang belum sepenuhnya dipahami, meski sebenarnya penggunaan obat pereda nyeri terlalu sering akan berpengaruh pada aliran pengiriman pesan sakit ke bagian saraf. 


Agar Tak Kecanduan Obat Pereda Nyeri


Saat mengalami sakit gigi atau nyeri menjelang menstruasi, sebagian orang mengandalkan obat pereda nyeri atau yang dikenal juga dengan
istilah analgesik. Namun penggunaan jangka panjang obat-obat golongan ini juga memiliki efek samping yang tidak kecil, misalnya kecanduan.
"Kebanyakan orang yang menggunakannya berlebihan menjadi kecanduan meskipun mereka tidak menginginkannya," ujar John Ulczycki, wakil presiden inisiatif strategi di National Safety Council.Karena itu menurutnya setiap orang perlu menggunakan obat ini dengan benar, supaya bisa menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan. Berikut lima kiat untuk membantu memastikan penggunaan obat analgesik secara aman.
1. Pertimbangan pilihan lain
Sebelum mengonsumsi obat analgesik, pertimbangkan cara lain yang mungkin lebih efektif dalam mengontrol nyeri. Dalam banyak kasus, penggunaan obat-obatan anti-peradangan non-steroid justru lebih baik digunakan untuk mengelola nyeri. Meski begitu, obat-obat itu juga memiliki efek samping.
2. Batasi penggunaan
Penggunaan obat analgesik perlu dilakukan dalam jangka waktu sesingkat mungkin. Jika dokter meresepkan obat pereda nyeri selama tujuh hingga sepuluh hari, maka mintalah untuk mempersingkatnya menjadi dua hingga tiga hari saja.
3. Ketahui efek samping
Saat tengah dalam pengaruh obat analgesik, maka seseorang perlu menghindari mengendarai kendaraan atau mengendalikan mesin. Kemampuan mengambil keputusan pun akan terganggu, begitu pula kemampuan berpikir dan koordinasi.
4. Jangan berbagi
Dari mereka yang kecandungan obat pereda nyeri, 75 persen di antaranya mendapat obat analgesik dari teman atau anggota keluarganya. Padahal obat analgesik tidak seharusnya digunakan tanpa peresepan karena akan berbahaya.


Mengenal Khasiat Obat pada Zat Beracun



Perbedaan antara obat dan racun seringkali terletak pada ukuran dosisnya. Obat aspirin misalnya,satu tablet berkhasiat mengurangi rasa sakit, tetapi 200 tablet saja sudah cukup untuk membunuh kita. Beberapa kandungan dalam obat bisa bersifat sangat toksik dan dikenal sebagai racun. Meski demikian, beberapa jenis racun seperti di bawah ini, sebenarnya memiliki kandungan obat.
- Bisa ular
Bisa ular yang dikumpulkan dari peternakan ular sejak lama sudah dipakai sebagai antibisa untuk gigitan ular. Untuk memproduksi antiracun, bisa ular murni diencerkan lalu disuntikkan ke mamalia seperti kambing, domba, kelinci, atau kuda. Setelah disuntikkan, hewan tersebut akan memberi respon imun sehingga para ilmuwan bisa mengumpulkan antibodi yang diproduksi hewan itu untuk membuat antiracun ular.
Membuat obat dari bisa ular sebenarnya hal yang baru. Misalnya, protein disintegron eristostatin yang diekstrak dari bisa ular di Asia, ternyata membantu sistem imun melawan kanker kulit. Penelitian kini difokuskan untuk mengetahui potensi protein ini melawan penyakit parkinson dan penyakit autoimun.
- Tetrodotoxin
Neurotoxin paling kuat, yakni tetrodotoxin (TTT), yang dihasilkan dari ikan buntal diketahui sebagai neurotoxin dengan kandungan racun paling tinggi. Neurotoxin adalah zat beracun yang menargetkan pada sistem saraf. TTX akan menghambat saluran tertentu di otak yang berperan penting dalam sistem saraf.
Penelitian menunjukkan, zat beracun tersebut berpotensi kuat sebagai obat untuk mengatasi nyeri kronik. TTX dalam dosis rendah juga telah dipakai pada manusia dan hewan yang menderita berbagai keluhan nyeri. Studi lanjutan mengenai TTX juga menunjukkan zat ini mungkin dapat mencegah kerusakan otak akibat stroke, menekan rasa sakit pada pasien kanker, dan menghilangkan gejala ketagihan opium.
- Nightshade
Zat beracun dari tanaman Atropa belladona ini memiliki sejarah panjang sebagai racun mematikan. Selama satu abad, nightshade dipakai dalam perang untuk meracuni musuh atau menyiksa lawan. Efeknya antara lain halusinasi. Konon zat racun ini juga dipakai dalam ilmu hitam.


"Mr P" Loyo, Perlukah Minum Obat Kuat?



Semakin tua usia seseorang, semakin mungkin mereka mengalami gangguan (disfungsi) ereksi.Kondisi tersebut tentu bisa membuat frustasi, apalagi jika libido masih besar tapi kemampuan si organ vital tak bisa diharapkan.Tak sedikit pula pria yang merasa penisnya loyo lantas mengambil jalan pintas dengan minum obat kuat.Meskipun pengobatan bisa meringankan gejala dari disfungsi ereksi, namun tidak selamanya orang yang mengalaminya perlu obat. Menurut konselor seks sekaligus dokter spesialis kejiwaan dr.Naek L Tobing, penyebab difungsi ereksi secara umum dibagi menjadi dua, yaitu fisik dan psikologis. "Bagi mereka yang disfungsi ereksinya disebabkan permasalahan fisik, penggunaan obat-obatan memang perlu dilakukan. Sementara bagi yang masalahnya psikologis, sebenarnya tidak perlu obat," paparnya saat dihubungi Kompas Health, Ssebelum memulai terapi obat-obatan disfungsi ereksi, perlu pemeriksaan untuk mengidentifikasi penyebabnya. Untuk pemeriksaan fisik, pasien perlu melakukan cek darah untuk mengetahui kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah.Hal-hal tersebut bisa membantu dokter mendiagnosis penyakit dasar yang dialami pasien yang mungkin menyebabkannya gagal ereksi. Tujuannya adalah agar terapi yang diberikan tepat sasaran.Permasalahan fisik, jelas dia, biasanya disebabkan oleh kurangnya hormon seksual dan tidak lancarnya aliran darah ke penis. Jika seseorang mengalami gangguan kolesterol, diabetes, penyakit jantung, atau tekanan darah tinggi, maka kemungkinan disfungsi ereksi pun makin besar.
Sementara itu, masalah psikologis yang menyebabkan disfungsi ereksi antara lain adanya masalah di dalam hubungan antara suami-istri. Misalnya, ada konflik, tidak cinta lagi, bahkan ketegangan karena melakukan kesalahan yang ditutup-tutupi."Solusi untuk pria yang mengalami disfungsi ereksi akibat permasalahan psikologis tentu adalah terapi psikologis seperti konseling," pungkas dokter yang mendapat gelar dari University of Minnesota, Amerika Serikat, ini.Baru-baru ini, studi dalam Journal of Sexual Medicine tersebut menemukan, ada banyak hal yang berpengaruh terhadap perbaikan kemampuan ereksi.

Obat Kuat Boleh Diminum Tiap Hari



Obat disfungsi ereksi atau yang dikenal juga dengan istilah obat kuat sering dijadikan andalan

Kombinasi Obat yang Berakibat Fatal



Keengganan berkonsultasi kepada dokter ketika ada gangguan penyakit membuat masyarakat cenderung mengobati sendiri penyakitnya

apoteker berperan vital


IAI: apoteker berperan vital implementasikan JKN

Yogyakarta (Antara Jogja) – Apoteker mempunyai peran vital sebagai garda depan tenaga kesehatan yang secara langsung terlibat dalam implementasi sistem Jaminan Kesehatan Nasional, kata Ketua Ikatan Apoteker Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta Nunut Rubiyanto.
“Implementasi skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dinilai akan berjalan timpang tanpa peran yang optimal dari apoteker,” katanya pada “Sumpah Apoteker Universitas Islam Indonesia (UII) Angkatan XXII” di Yogyakarta, Selasa.
Menurut dia, memasuki 2014, pemerintah telah secara resmi menggulirkan skema JKN. Sistem tersebut bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan bagi semua lapisan masyarakat sehingga turut mendorong kualitas kesehatan bangsa.
“Dalam skema JKN, tantangan kesehatan akan semakin kompleks sehingga apoteker hendaknya selalu berkomitmen pada kualitas baik pada tahap input maupun proses,” katanya.
Ketua Komite Farmasi Nasional (KFN) Bambang Triworo mengatakan JKN merupakan terobosan pemerintah di bidang kesehatan yang patut diapresiasi.
Meskipun masih ada kekurangan, kata dia, iktikad pemerintah untuk mendorong peningkatan kualitas kesehatan harus didukung oleh semua pihak termasuk kalangan apoteker.
“Hal itu sejalan dengan hak setiap warga negara untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan memadai yang memang telah diamanahkan oleh undang-undang,” katanya.
Rektor UII Edy Suandi Hamid mengatakan para apoteker lulusan UII diharapkan dapat konsisten dalam menggunakan keahlian yang mereka pelajari untuk terjun mengabdi di tengah masyarakat.
Menurut dia, apoteker mempunyai peran strategis dalam elemen pelayanan kesehatan di masyarakat. Sungguh disayangkan jika lulusan apoteker tidak bekerja sesuai dengan kompetensi profesinya.
“Apoteker berperan penting dalam pengawasan obat yang beredar di masyarakat bersama pemerintah. Hal itu penting karena setiap tahun ada lebih dari 300 ribu obat baru yang terdaftar,” katanya.
Ia mengatakan sumpah apoteker itu diikuti 103 peserta dari Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UII. Lulusan terbaik yang mendapat pin emas diraih oleh Risti Pratiwi dengan IPK 3,94.

87 Apoteker Unair Siap Sukseskan JKN


87 Apoteker Unair Siap Sukseskan JKN

Surabaya (Antara Jatim) – Sebanyak 87 apoteker Universitas Airlangga (Unair) Surabaya yang sudah disumpah (27/2) dan mendapatkan sertifikasi siap menyukseskan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Tugas seorang apoteker itu menjalankan tugas negara,” kata Dekan Fakultas Farmasi (FF) Unair Surabaya Dr Hj Umi Athiyah MS Apt di Surabaya, Jumat.
Menurut dia, apoteker merupakan salah satu petugas negara yang mengabdi berdasarkan keahlian atau ilmunya untuk melindungi masyarakat di bidang kesehatan.
“Jadi, apoteker itu mewakili negara untuk mengatur penggunaan obat hasil farmasi serta untuk menghindari penyalahgunaan terhadap produk kefarmasian,” katanya.
Di sela-sela penyerahan sertifikasi kepada 87 apoteker baru periode ke-97 oleh anggota Komite Farmasi Nasional (KFN) Drs Bambang Triwara Apt di kampus setempat (27/2), ia menjelaskan negara sangat berharap dengan lulusan apoteker berkualitas untuk pengabdian kepada nusa dan bangsa.
“Dengan demikian, sejak seorang apoteker baru disumpah, tentunya harus sudah siap mengabdi untuk kepentingan kemanusiaan di bidang kesehatan, sekaligus menghadapi persaingan global,” katanya.
Sementara itu, Ketua KFN Drs Purwadi Apt MM ME dalam sambutan tertulis yang dibacakan anggota KFN Drs Bambang Triwara Apt menegaskan bahwa apoteker baru harus siap bersaing di pasar global.
“Meski 80 persen dari 45.365 apoteker yang sudah bersertifikasi itu adalah perempuan, maka mereka tetap harus siap bersaing,” kata Purwadi dalam sambutan tertulis itu.
Untuk itu, pemerintah terus memperkuat sistem peningkatan kesehatan masyarakat yang antara lain untuk menjawab tuntutan masyarakat, yakni melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
“Apoteker mempunyai arena pengabdian khusus yang luas yaitu membantu masyarakat (pasien) memanfaatkan pengobatan secara optimal dan ikut melakukan pencegahan terhadap penyakit,” katanya.
Untuk itulah, kata alumni FF Unair itu, seorang apoteker dituntut untuk mampu memberikan pelayanan secara optimal terhadap peningkatan sistem kesehatan secara menyeluruh.
height= height=
height= height= height= height=

Popular Posts

height= height= height= height=
height= height= height= height=