Pendengaran merupakan salah satu indera penting bagi anak dalam menerima informasi dan mempelajarinya.Namun, terkadang kesehatanindera ini terabaikan. Salah satu gangguan pendengaran yang sering ditemui pada anak ialah sumbatan kotoran dalam telinga.Ketua Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) Damayanti Soetjipto mengatakan baru-baru ini, 30-50 persen anak SD mengalami gangguan pendengaran ini. Kotoran yang menyumpal dan mengeras itu membuat anak sulit mendengar saat di kelas dan terganggu belajarnya.”Guru yang tak memahami masalah ini beranggapan anak-anak ini tak menyimak, berulah dengan mondar-mandir di depan kelas, dan bodoh. Padahal, ada kotoran yang menyumbat telinga sehingga mereka berusaha mendengar dengan jalan-jalan ke depan kelas dan kesulitan berkonsentrasi,” ujarnya.
Kotoran telinga (serumen) merupakan hasil produksi kelenjar-kelenjar liang telinga, lepasan kulit, dan partikel debu. Baunya yang khas menjaga agar serangga tidak masuk telinga. Serumen lunak dan berwarna coklat kehitaman. Kepadatan serumen dipengaruhi iklim, usia, kondisi lingkungan, dan faktor keturunan.
Serumen berada di sepertiga luar liang telinga. Namun, serumen bisa mengembang sehingga menutup liang telinga dan menyebabkan ketulian ringan hingga sedang. Damayanti mencontohkan, saat anak berenang, kotoran di dalam telinga akan mengembang karena terkena air lalu mengeras. ”Anak-anak di pedesaan yang suka bermain di sungai atau anak-anak pesisir yang sering di pantai dan laut sering mengalami sumbatan kotoran,Jika dibiarkan, kotoran itu mengeras dan semakin sulit dikeluarkan. Biasanya, begitu kotoran dikeluarkan, anak segera mendengar lagi. Untuk mengatasi kotoran yang menyumpal, dibutuhkan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan.
Guna menghindari sumbatan kotoran terlalu lama di telinga, orangtua dan guru diharapkan secara periodik















