Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Menyelesaikan Masalah Tanpa Depresi.



Anda tak akan bisa memecahkan masalah apa pun jika terus berpikiran negatif. Sebab berpikiran negatif akanmembawa Anda menuju depresi, yakni suatu keadaan di mana dunia tampak sebagai tempat yang suram dan membosankan. Untuk itu,latihlah diri Anda agar senantiasa berpikiran positif. Berikut langkah-langkahnya:
1.   Kenali kata atau konsep negatif dalam setiap kalimat yang biasa Anda ucapkan.
2.   Hilangkan -atau ubah menjadi positif, dan 'keinginan' positif pun akan muncul.
3. Tambahkan "bila..." atau "bilamana..." untuk membuat keinginan Anda menjadi kenyataan.
Contohnya, kalimat: "Aku takkan mungkin mengatasi problema ini."
1. Kata negatif: takkan mungkin. Buang kata itu dan ganti dengan keinginan Anda.
2. Keinginan positif: "Aku akan mengatasinya."
3. Tambahkan sesuatu pada kalimat itu untuk membuatnya lebih positif lagi, seperti: "Aku akan mengatasinya bila aku segera minta saran profesional." Lihat betapa kalimat awal menyiratkan perasaan putus asa, sementara kalimat akhir memiliki rasa optimisme.
Dua aturan emas berpikir positif
Bila Anda sedang berjuang untuk mengatasi problema berat, ide berikut dapat membawa hasil memuaskan. Berpikirlah, bahwa:
1. Apa yang dapat kulakukan sekali, dapat kulakukan untuk kedua kalinya.
2. Apa yang dapat kulakukan sedikit, dapat kulakukan banyak.Ambil contoh seseorang yang mengidap penyakit kronis, situasi yang sering membuat orang merasa stres. Kalau Anda menghadapi masalah ini, Anda dapat mengenali posisi tubuh bagaimana, atau tindakan apa yang dapat mengurangi rasa sakit ini, sekalipun sedikit. Cari lebih banyak lagi, agar dapat mengurangi rasa sakit Anda sedikit demi sedikit, hingga akhirnya Anda merasa benar-benar nyaman.
Penegasan
Kadang-kadang Anda perlu punya 'tabungan' pernyataan positif yang bisa Anda pakai kapan saja Anda merasa stres atau menghadapi masalah yang berulang.
Berikut beberapa contoh kalimat-kalimat positif soal target dan kemampuan:
1.  Aku semakin tenang dan fleksibel setiap hari.
2. Aku dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam kemampuanku menanggulangi masalah.
3.  Aku akan mengatasi stres secara lebih mudah.
4.  Aku dapat membangun kekuatan dan energi, baik mental maupun fisik.



Belanja Sebagai Terapi



Pernahkah Anda merasa begitu gembira setelah berbelanja? Pernahkah Anda merasa berhasil memperbaikisuasana hati setelah membeli kuteks untuk
mewarnai kuku, atau mendapatkan kacamata yang mampu mengubah penampilan menjadi lebih keren?Belanja bukanlah aktivitas sesederhana memilih lalu membayar. Lebih dari itu, belanja merupakan aktivitas mental yang cukup rumit. Ketika berkeliling di pusat pertokoan, kemudian mengamati model dan warna  sepatu, tas, aksesori, kaca mata, baju branded, kita akan membayangkan diri saat mengenakan barang-barang itu.  Ketika pada akhirnya kita memutuskan untuk membeli, kita menginginkan adanya perubahan saat menggunakan hasil belanjaan itu. Tidak salah, karena memang demikian proses berbelanja. Banyak orang berharap mengalami perubahan ketika membeli barang.  “Dalam batas normal, berbelanja dapat disebut retail therapy. Tidak menghabiskan uang, tidak berlebihan, setelah berbelanja merasa diri ‘diterapi,’ merasa puas, dan  tetap dalam kendali,” Setiap orang tentu pernah mengalami perubahan dalam hidupnya. Ketika masa transisi itu sedang dijalani, ia butuh sesuatu untuk membuat masa transisi itu menjadi lebih mudah. Berbelanja atau membeli barang-barang baru, bisa memberikan manfaat terapi dalam beberapa perubahan hidup, dan dapat memperkaya hidupnya. Misalnya:Belanja untuk memulai hidup baru
“Beberapa bulan setelah bercerai, saya melakukan ‘cuci gudang.’ Saya undang teman-teman saya untuk mengambil barang-barang yang mengingatkan saya pada mantan suami. Setelah itu saya belanja material dan banyak sekali barang untuk mendesain dan mendekor ulang rumah saya,” papar Rita (42), yang lebih senang membelanjakan uangnya untuk menghias rumah.  “Berbelanja seperti yang dilakukan oleh Rita, itu masih dalam batas normal. Tujuannya jelas, ingin membangun hidup baru, untuk kebahagiaannya,”
 Belanja demi sukses
“Sewaktu saya pindah kerja, saya melipat baju lama saya dan menyingkirkan sepatu dan tas lama. Saya ganti semua dengan yang baru, karena saya ingin tampil baru. Dengan penampilan baru, saya lebih percaya diri menghadapi pekerjaan baru,” Sebuah riset yang dimuat dalam The Journal of Experimental Social Psychology menyebut bahwa pakaian seseorang dapat memengaruhi kesuksesannya. Riset dilakukan dengan meminta beberapa mahasiswa kedokteran untuk mengenakan jas dokter saat menyelesaikan beberapa tes. Terbukti bahwa hasil tes kelompok mahasiswa ini lebih baik dibanding kelompok kontrol yang diminta mengenakan pakaian kasual saat mengerjakan soal-soal tes. “Belanja pakaian untuk mengubah penampilan itu baik. Apalagi untuk sebuah penampilan yang sesuai dengan lingkungan kerja yang baru,”


height= height=
height= height= height= height=

Popular Posts

height= height= height= height=
height= height= height= height=